Pada akhir jam tatap
muka, mahasiswa diminta untuk menuliskan atau mengemukakan secara lisan :
1. Penjelasan
dengan menggunakan kata-kata sendiri tentang latar belakang munculnya istilah
dan doktrin Tritunggal dalam sejarah gereja mula-mula
2. Penjelasan
yang singkat dan sistematis tentang konsep yang salah mengenai Allah Tritunggal
sejak masa sebelum sampai sesudah reformasi.
3. Penjelasan
yang singkat dengan menggunakan kata-kata sendiri mengenai konsep Tritunggal
baik menurut Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru dan implikasinya bagi dasar
kepercayaan orang Kristen dalam masa kini
4. Penjelasan
yang singkat dengan menggunakan kata-kata sendiri mengenai eksistensi dan peran
Bapa sebagai Oknum Pertama Tritunggal dan implikasinya dalam kepercayaan dan
perilaku Kristiani.
5. Penjelasan
yang singkat dengan menggunakan kata-kata sendiri mengenai eksistensi dan peran
Anak sebagai Oknum Kedua Tritunggal dan implikasinya dalam kepercayaan dan
perilaku Kristiani.
6. Penjelasan
yang singkat dengan menggunakan kata-kata sendiri mengenai konsep keselamatan
holistik yang mencakup seluruh pengalaman hidup di dunia ini, kematian, dan
kehidupan sesudah kematian.
7. Penjelasan
yang singkat dengan menggunakan kata-kata sendiri mengenai eksistensi dan peran
Roh Kudus sebagai Oknum Ketiga Tritunggal dan implikasinya dalam kepercayaan
dan perilaku Kristiani.
8. Penjelasan
singkat mengenai beberapa pemahaman yang salah mengenai Roh Kudus dan memberi
penjelasan yang benar mengenai hal itu.
Jawaban
1. Allah
Tritunggal sebenarnya tidak dipergunakan dalam Alkitab tetapi dalam 1 Yohanes
5:7 menyatakan “Sebab ada tiga yang memberikan kesaksian di surga; yaitu Bapa ,
Firman dan Roh Kudus , dan ketiganya adalah satu” maka Tertulianus
mengistilahkan itu sebagai Tritunggal. Latar belakang munculnya istilah
dan doktrin Tritunggal dalam gereja mula-mula adalah dimulai ketika gereja
lahir, tepatnya d Jerusalem, dengan konteks agama Yahudi yang mengutamakan
doktrin Monotheisme yang mutlak(Allah adalah Esa) yang berpengaruh pada gereja
orang Kristen mula-mula. Kemudian gereja Kristen mula-mula ini mengalami
pertumbuhan yang mempunyai pokok pengakuan iman yang baru yaitu Yesus Kristus
adalah Tuhan. Sebenarnya istilah Tritunggal berasal dari Tertulianus yang
berdasarkan apa yang dikemukakan 1 Yohanes 5:7. Meskipun istilah ini tidak
pernah dipergunakan dalam Alkitab secara harfiah , namun oleh karena
Tertulianus masih ingin mempertahankan keesaan Allah, ia menempatkan Anak lebih
rendah derajatnya. Barulah setelah pendapat tertulianus ini mengenai doktrin
Tritunggal, pendapat-pendapat lain yang berbeda bermunculan.
2. Pada masa sebelum dan sesudah
Reformasi terdapat banyak konsep-konsep yang salah mengenai Allah Tritungal.
Contoh-contohnya pada sebelum Reformasi antara lain :
a.
Tertulianus membedakan Oknum I dan Oknum II dalam derajat, artinya Anak lebih
rendah derajatnya dari Bapa.
b. Origenes
dalam perkataannya bahwa Anak lebih rendah dari Bapa dan Roh Kudus lebih rendah
dari Anak dan Bapa karena Anak adalah ciptaan Bapa, dan Roh Kudus ciptaan Bapa
dan Anak.
c. Arians
yang dipengaruhi Origenes menyangkali keilahian Anak dan Roh Kudus.
d. Kaum
Monarchis : keberadaan dan keilahian Anak hanyalah sekedar penjabaran dan cara
penampilan yang berbeda dari Bapa
Ø Dinamik Monarchis : Yesus Kristus
adalah manusia semata dan Roh Kudus bukan Oknum atau pribadi tetapi hanya
pengaruh atau semangat ilahi.
Ø Modalistik Monbarchis : ketiga
Oknum Allah adalah 3 mode manifestasi yang berbeda-beda dari Allah dan ada yang
melalaikan kesatuan Allah.
Kesalahan-kesalahan
mengenai pendapat atau konsep ini mendorong gereja(pada abad 4) untuk menemukan
rumusan yang benar. Maka, dilakukan sidang gereja di Nicea dan Konstantinopel
bahwa hanya ada satu Allah dan bahwa Anak dilahirkan(berasal) dari substansi
Bapa, karena itu Anak sederajat dengan Bapa, dan Roh Kudus juga sederajat
dengan Bapa dan Anak. Namun, kesalahpahaman tentang doktrin ini muncul kembali
sesudah masa Reformasi, contohnya antara lain :
a. Golongan
Arminians, yang demi menegaskan kesatuan Allah malah cenderung merendahkan
Oknum II dan Oknum III.
b. Golongan
Lutheran(Hegel dan Scheleimacher). Mereka mengikuti modalisme.
c. Karl
Barth. Ia menerima adanya ketiga oknum. Allah Tritunggal dan tidak merendahkan
oknum lain, tetapi penjelasannya belum mencakup segi keesaan dan ketigaan dari
Allah Tritunggal.
3. Dalam
Perjanjian Lama tidak memberikan penjelasan yang terperinci sedangkan
Perjanjian Baru menyebutkan pernyataan yang lebih jelas seperti:
Ø Bila
dalam Pejanjian Lama nama “Bapa” dipergunakan untuk Yahwe, segenap Trinitas,
maka dalam Perjanjian Baru selain bermakna
Allah Tritunggal secara khusus menunjuk kepada Oknum 1.
Ø Bila
dalam perjanjian lama Jahwe diperlihatkansebagai Penebus dan Penyelamat
umatnya( Yes. 41:14. 43:3, 11,14; 49:7,26 ; 60:16; Yer. 14:3; Hos. 13:3) dalam
Perjanjian baru Anaklah yang berfungsi demikian.
Ø Dalam
Perjanjian Lama di kemukakan bahwa Yahwe diam diantara umatNya (Mzm.74:2;
135:21: Yes.8:18; 57:15; Yoel 3:17, 21; Zak.2:10,11) sementara itu dalam
Perjanjian Baru Roh Kuduslah yang tinggal didalam hati orang Kristen atau
gereja(Kis.2:4; Roma 8:9, 11; 1Kor.3:16; Gal.4:6).
Ø Konsep Tritunggal dalam Perjanjian
Lama kurang lengkap karena lebih menekankan pengajaran tentang keesaan Allah,
meskipun begitu ada juga indikasi-indikasi tentang eksistensi Allah, biktinya :
Ø Keberadaan Malaikat Tuhan yang bukan
malaikat biasa karena Ia berfirman atas namaNya sendiri dan mau
disembah(Kejadian 16:10, Yosua 5).
Ø Roh Allah yang memberi ilham kepada
manusia(Yohanes 11:5).
Ø Diperlihatkan oknum yang lebih dari
satu(Mazmur 33:6).
Ø Disebutkan tentangf Allah yang
berbicara, Mesias dan Roh Allah(Yesaya 48:6)
Ø Ketiga oknum tersebut
disebutkan(Yesaya 63:8-10).
Ø Konsep Tritunggal dalam Perjanjian
baru lebih jelas mengenai doktrin ini, buktinya :
Ø Bapa bermakna Allah Tritunggal dan
menunjuk pada Oknum I.
Ø Anak yang berfungsi sebagai penebus
dan Penyelamat umatNya, bukan Yahwe seperti dalam Perjanjian Lama.
Ø Roh Kudus tinggal didalam hati orang
Kristen atau gereja(Kisah Para Rasul 2:4)
Ø Allah memberikan AnakNya kedalam
dunia(Yohanes 3:16).
Ø Bapa dan Anak mengirim Roh
Kudus(Yohanes 14:26)
Ø Matius 3:16-17 berbicara : anak
dalam diri Yesus Kristus yang dibabtiskan, Bapa yang berbicara, Roh dalam wujud
burung merpati.
Implikasi bagi dasar kepercayaan
orang Kristen pada masa kini adalah keberadaan Allah secara kekal terdiri dari
3 oknum dan keberadaan Allah ada 1 hakekat dan tidak dapat
dipisahkan/dibagi-bagi(Homo-Usios). Kuasa, kasih dan kebenaran tidak dapat
dibagi secara sempurna pada tiga oknum tersebut.
4. Menurut saya
“Bapa” adalah Pencipta dan Pemelihara
dunia. Dalam perjanjian lama
“Bapa” dipakai untuk pemerintahan Allah dan Perjanjian Baru “Bapa”
Dipakai sebagai Asal mula Allah Tritunggal dan Eksistensi dan peran Bapa sebagai Oknum I Tritunggal terlihat
sejak Perjanjian lama. Nama Bapa dipakai untuk pemerintahan Allah Tritunggal
yang Theokratis atas bangsa israel sebagai umatNya dan dipergunakan sebagai
asal mula(Bapa) dari segala ciptaan juga dipergunakan bagi Oknum I Allah
Tritunggal. Bapa berada pada urutan pertama sehingga disebut Oknum I karena
dariNyalah lahir/berasal Sang Anak. Tapai Bapa tidak lebih kekal dan berkuasa
daripada Anak dan Roh Kudus. Pembedaan sebagai Oknum I dan Anak dan Roh Kudus
adalah dalam keberadaanNya sebagai asal dari Oknum II dan Oknum III dan dalam
fungsinya pencipta dan pemelihara segala makhluk. Peran-peran Bapa lainnya
antara lain Dia telah mengutus Anak untuk keselamatan manusia, Ia yang
mengadili, membalas kebaikan dengan berkat/kejahatan dengan hukuman,dll.
Implikasi
dalam kepercayaan dan perilaku Kristiani adalah bahwa :
a.
Keberadaan Allah yang agung dan tak terbatas itu jauh diluar jangkauan
kemampuan manusia untuk memahaminya dan harus dipahami dan diterima dengan mata
iman.
b.
Keberadaan Bapa sebagai pencipta dan pemelihara adalah bahwa Dialah sumber
kehidupan dan keberadaan kita. Tidak saja hidup kita tergantung kepadaNya
tetapi Dia juga berdaulat penuh atas hidup dan tujuan hidup kita. Kewajiban
kita adalah memuliakn nama Dia lewat kehidupan kita.
c. Memanggil,
memohon dan berharap kepadaNya sesuai dengan pengenalan yang benar tersebut.
Kita berdoa agar Dia memelihara kita.
5. Eksistensi dan peran Anak sebagai Oknum II
Tritunggal tidak hanya ada dalam/lewat pernyataan diriNya sebagai manusia uyang
bernama Yesus. Disebut Anak bukan karena perananNya sebagai juruselamat bagi
manusia tetapi karena dilahirkan/berasal secara kekaldan ada bersama-sama
Allah, setara dengan Allah, bahkan Dia adalah Allah sendiri karena KeilahianNya
yang melampaui manusia dan segala makhluk. Pembedaannya dengan Oknum yang
laindilihat dalam kelahiranNya(asalNya) secara kekal dari Bapa dan asal yang
kekal dari Roh Kudus dan fungsi sebagai Penyelamat dan Perantara manusia.
Peran-peran Dia yang lainnya adalah Anak mengerjakan apa yang diperintahkan
Bapa, satu-satunya jalan kepada Bapa dan Sang Penyelamat bagi manusia, dan akan
datang kembali sebagai Hakim.
Implikasi
dalam kepercayaan dan perilaku Kristiani adalah :
a.
menjadikan keselamatan yang Allah berikan yng merupakan kasih karunia sebagai
dasar bagi tanggapan moral yang harus kita berikan lewat ketaatan terhadap
perintahNya seperti kesepuluh Hukum Taurat dan juga harus meyakini bahwa
keselamatan dan jaln untuk menemui Bapa hanyalah dari dan lewat Dia saja.
b.
Kepercayaan dan penyembahan(doa, pujian dan ucapan syukur) jangan hanya kepada
Bapa saja tetapi juga kepada Anak.
c.
Kepercayaan kepada Anak harus diikuti dengan kasih kepada Allah lewat kasih
terhadap sesama(memiliki kedekatan) dan juga bertanggung jawab memelihara alam
semesta.
d. Serta
haruslah diikuti dengan pemahaman bahwa keselamatan itu adalah anugerah Allah
dan bukanlah karya manusia, dan anugerah tersebut diterima lewat iman.
6. Konsep keselamatan yang bersifat Holistik yang
diberikan oleh Anak yang mencakup seluruh pengalaman hidup didunia, kematian,
dan kehidupan sesudah kematiaan maksudnya bukan hanya mencakup aspek batiniah
seperti pengampunan dosa dan hidup yang kekal, tetapi juga menyangkut hal-hal
jasmaniah seperti kelepasan dari penyakit dan ketertawanan/keselamatan dari
permasalahan hidup dan kehidupn sehari-hari. Hiup kekal itu diterima bukan
hanya kelak tetapi kini yaitu dalam bentuk kualitas hidup yang baru sebagai
anak-anahk Allah karena yang dituntut dari orang yang telah meneriam
keselamatan yaitu bersedia setia padaNya, berkorban, dibenci orang, menderita,
kalau perlu mati demi keselamatan itu dan menolak pekerjaan Iblis. Kitab
sucipun dapat memberi hikmat yang menuntun seseorang kepada keselamatan. Namun,
itu diperoleh bukan karena ketaatan kita tetapi karena iman terhadap anugerah
Allah lewat kurbn Yesys Kristus di kayu salib.
7. Eksistensi dan peran Roh Kudus sebagai Oknum III
Tritunggal tidak hanya ada setelah gereja Kristen berdiri dan bertumbuh karena
sejak Perjanjian Lama Roh Allah sudah diperlihatkan bekerja pada penciptaan dan
juga berperan dalam nubuatan(mengilhami nubuat yng disampaikan para nabi) bisa
berbentuk penglihatan, mimpi/langsung firman Allah. Roh Allah memberi inspirasi
dan kemampuan kepada seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan yang Allah
kehendaki.
Peran Roh
Kudus dalam Perjanjian Baru sebagai Pembaharu dan Penolong :
a. Roh Kudus
memberi hidup baru dalam konteks kelahiran kembali yaitu merubah kesadaran
seseorang dan membaharui keberadaannya dengan cara :
Ømemberi panggilan, kepercayaan dan
menobatkan juga menginsafkan akan dosa-dosa.
Ø Dengan menyucikan, mendiami,
melaksanakan kehendak Allah. Tidak lagi mengikut daging tetapi menghasilkan
buah-buah roh, dimampukan untuk hidup kudus, bersaksi, berdoa seturut kehendak
Allah.
Roh Kudus
menghibur seseorang dikala duka, menguatkan diwaktu menghadapi penganiayaan,
mengajari diwaktu ada kebimbangan, mengalami pertumbuhan rohani sebagai anak
Allah, dll.
b. Roh Kudus
memberi karunia khusus kepada setiap orang percaya. Memberi karunia supranatural,
seperti berbahasa lidah, berbuat mukzijat, menyembuhkan orang sakit, bukan
lewat proses belajar. Memberi karunia natural seperti mengajar, memberi,
menghibur dan memimpin, diberikan lewat proses belajar.
c. Dia
merubahkan dan mendiami serta bekerja membaharui setiap orang percaya sampai
puncaknyayaitu saat kedatangan tuhan Yesus kedua kalinya.
Implikasi
praktisnya :
a.
Kepercayaan dan penyembahan jangan hanya kepada Bapa dan Anak saja tetapi juga
kepada Roh Kudus.
b.
Kepercayaan kepada kuasa Allah atas manusia yng tak dapat dibatasi oleh apapun.
Kuasa itu dapat bekerja untuk membaharui seseorang bukan hanya dalam
kepercayaan dan sikap hidup tetapi juga tingkah lakunya.
c. Roh Kudus
kita jadikan dasar pengharapan bagi orang percaya bahwa Dia akan membaharui
segala sesuatu sehingga terbentuk langit dan bumi yang baru. Pengharapan ini
tidak boleh diresponi secara pasif, tetapi dengan aktif yaitu dengan
partisipasi dalam pembenahan tatanan sosial-politik-ekonomi pada masa kini.
8.Pemahaman-pemahaman yang salah
mengenai Roh Kudus :
a. Origenes
dan golongan Arminians menagtakan bahwa Roh Allah lebih rendah dari Anak dan
Bapa.
b. Arians
menyebutkan bahwa Roh Kudus adalah ciptaan allah sebagaimana Anak adalah
ciptaan bapa.
c. Golongan
Marchianisme yang dinamis menegaskan bahwa Roh Kudus bukanlah Oknum tetapi
pengaruh/kuasa ilahi semata.
Pemahaman-pemahaman
yang salah ini diberikan penjelasan yang benar melalui Konsili Konstantinopel
yang menegaskan Keilahian Roh Kudus. Dia sederajat dengan Anak dan Bapa karena
Dia dilahirkan/berasal secara kekal dari Bapa dan Anak.